Kamis, 17 April 2014

Taize

Sekilas Taize

Taize adalah sebuah desa pertanian sederhana di Perancis Selatan.
Pada tahun 1940, ketika Eropa dilanda perang dunia II, Roger seorang mahasiswa teologi Protestan di Swiss yang berusia 25 tahun tiba di desa Taize. Ia sendiri adalah anak seorang Pendeta Protestan Swiss. Ia terkejut melihat penderitaan dan kebencian merajalela di Eropa akibat perang. Dalam kondisi yang berkecamuk itu, pergilah Roger ke Perancis. Sesampainya di desa kecil Taize, ia membeli rumah kosong yang sudah rusak. Ia tinggal di situ dan membuka rumahnya bagi pengungsi perang serta tempat perlindungan bagi orang Yahudi yang dikejar Nazi. Di rumah itu, ia mengajak orang-orang di sana untuk beribadah secara hening. Ia rindu untuk menghadirkan komunitas persaudaraan (brotherhood) bersuasana Ucapan Bahagia Yesus, yaitu : sukacita, kesederhanaan, dan kemurahan hati (simplicity, mercy, and joy).

Dua tahun setelah Roger bekerja sendiri, bergabunglah beberapa kawannya. Ketika perang telah selesai, Roger dan kawan-kawannya bertekad meneruskan pelayanan ini sebagai suatu perumpamaan tentang persaudaraan; sebagaimana yang dikehendaki Yesus. Begitulah pada hari Paskah tahun 1949, Roger dan enam kawannya membuat komitmen dihadapan Tuhan untuk menyerahkan sepenuh waktu dan hidup mereka bagi pekerjaan Tuhan tersebut dengan jalan hidup membujang dan sederhana. Dengan begitu, lahirlah Communaute de Taize atau komunitas Taize.

Komunitas Taizé pada awalnya merupakan komunitas para biarawan Kristen yang didirikan atas dasar cinta kasih dan persaudaraan eukumenis, tanpa memandang latarbelakang anggotanya. Inspirasi ini muncul setelah Perang Dunia II yang mengerikan, di mana bangsa-bangsa Eropa terpecah belah, termasuk perpecahan hebat dalam agama Kristen sendiri (Katolik, Protestan, Ortodoks, Anglikan dan sebagainya).
Dari keprihatinan itu, Bruder Roger Louis Schutz bersama para biarawan di Taizé saat itu, menjalankan pola hidup persaudaraan intensif seperti dikatakan Santo Paulus dalam surat kepada umat Efesus, yaitu selalu sabar, lemah lembut, rendah hati, saling membantu dan damai (bdk.Ef.4:2-3) dalam hidup sehari-hari mereka.
Pola hidup ini dikomunikasikan dengan setiap orang yang datang berkunjung. Makin lama makin banyak peziarah yang datang dan memperoleh persaudaraan, persahabatan serta perhatian tulus dari para biarawan Taizé. "Kami menyambut mereka, mengatur tempat untuk mereka tinggal, menemani, mendengarkan orang yang ingin berbagi suka duka. Namun metode ini bukanlah semacam bimbingan konseling," demikian Bruder Jean-Marie, salah satu biarawan komunitas Taizé.
Demikianlah sampai saat ini, sepanjang tahun ribuan peziarah dari seluruh dunia datang ke Taizé untuk beristirahat, merenung, berdoa, bernyanyi, bahkan bekerja, bersama para biarawan dan penduduk sekitar. Di sana mereka keluar sejenak dari hidup sehari-harinya, dan mereka saling membagi perhatian, persaudaraan, persahabatan serta cinta kasih dengan sesamanya.

Taize kini menjadi tempat Retreat/ Bible Camp; di mana ribuan anak muda datang dari seluruh dunia untuk mencari sesuatu yang berarti bagi hidup mereka. Melalui doa, refleksi, dan diskusi Alkitab, mereka ingin memperdalam kehidupan spiritualitas mereka dengan harapan agar dapat lebih baik lagi mengambil bagian dalam gereja asal mereka. Komunitas Taize tidak bermaksud untuk melahirkan sebuah aliran kekristenan yang baru, tetapi sebagai sebuah upaya memenuhi panggilan Kristus, yaitu mewujudkan rekonsiliasi (perdamaian) antara sesama pengikut Kristus. Doa dan harapan inilah yang diucapkan Tuhan Yesus di dalam Yohanes 17:21 : "... supaya mereka semua menjadi satu" 


Doa Dan Suasana Ibadah Di Taize

Jantung kehidupan di Taize ialah doa. Sekalipun semua orang sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing, ketika lonceng ibadah berbunyi semua orang meninggalkan pekerjaannya dan masuk ke gedung gereja. Doa bersama diadakan tiga kali dalam sehari, yaitu : pagi, siang, dan malam. Pada doa pagi hari disertai dengan Perjamuan Kudus. Doa bersama inilah yang menjadi pusat kehidupan sehari-hari di Taize. Dalam ibadah doa tiga kali sehari tersebut, ada waktu hening/ tenang (silent prayer) selama ( 15 menit. Waktu doa hening ini dimaksudkan agar setiap orang dapat dengan tenang berdoa dan berdiam diri di hadapan Tuhan tanpa terganggu dengan suara orang-orang di sekitarnya. Doa hening ini mengajak kita meneduhkan diri dari begitu banyaknya suara dan kata-kata yang sepanjang hari kita dengar dan ucapkan.
Di dalam doa hening/ saat teduh ini; kita bukan hanya mencoba mengutarakan segala sesuatu kepada Tuhan, tetapi terutama memberikan kesempatan kepada Tuhan untuk berdoa bagi kita, berdoa di dalam diri kita, dan berdoa bersama kita.

Di dalam keheningan dan ketenangan, kita mencoba lebih peka untuk mendengar suara Tuhan dalam kehidupan kita. Kita dipanggil untuk merefleksikan ulang perjalanan kehidupan ini dan merenungkan kembali pemeliharaan dan kasih setia Tuhan selama masa-masa yang telah lalu dan mengkomitmenkan kembali masa selanjutnya ke dalam tangan Tuhan. Doa hening ini bukan sekedar intuisi atau khayalan, karena sebelum berdoa, terlebih dulu dinyanyikan Mazmur dan dibacakan ayat Alkitab.

Lagu-lagu Taize mempunyai ciri khas : satu atau beberapa kalimat yang mudah dimengerti (kesederhanaan kata-kata), diambil dari ayat Alkitab yang singkat (alkitabiah), diterjemahkan ke dalam banyak bahasa (internasionalitas) dan dinyanyikan berulang-ulang (meditatif). Lagu-lagu Taize dinyanyikan berulang-ulang sehingga kita semakin mengerti dan meresapi kedalaman lagu tersebut. Tentu saja, lagu-lagu yang kita nyanyikan tetap dalam taraf kesadaran kita (tidak trans/ kehilangan eksistensi diri). Hal ini dapat dimengerti seperti bila kita membaca Alkitab. Ketika kita membaca bagian Alkitab tertentu beberapa kali, kita akan menjadi semakin mengerti dan meresapi arti kedalaman Firman Tuhan bagi hidup kita tanpa membuat kita kehilangan eksistensi diri kita (trans). Semua hal di atas membuat ibadah di Taize sangat khas, sederhana, mudah diresapi, serta mengalir seperti aliran sungai. Ibadah terkesan sederhana namun sangat berisi dan bermakna tanpa segala macam bentuk formalitas. Ibadah Taize yang sederhana ini selaras dengan kehidupan di Taize yang juga sederhana.


Semangat Rekonsiliasi DDan Ekumenitas

Kita sering mendengar bahwa : "Gereja harus membuka pintu dan jendela. Panggilan gereja adalah : menjadi gereja bagi orang lain; menjadi sesama manusia bagi orang di sekitar kita." Bahkan, kita juga terus menggumuli bagaimana membangun "gereja tanpa tembok"; dengan beberapa seminar yang pernah diadakan, aksi sosial, dsb. Semangat rekonsiliasi dan ekumenitas ini pulalah yang sangat menonjol di Taize. Ratusan hingga ribuan orang/ anak muda yang datang setiap minggu ke Taize berasal dari berbagai negara, bahasa, maupun latar belakang gereja yang berbeda-beda. Namun, semua pengikut Kristus tersebut terpanggil untuk duduk bersama, bernyanyi bersama, dan berdoa bersama. Dalam pertemuan doa akbar Taize di Eropa (European Meeting) yang diadakan setiap tahunnya, Sekretaris Jendral PBB selalu memberikan kata sambutan tertulis sebagai respon positif terhadap orang-orang Kristen yang mencoba menghadirkan kedamaian dan kebersamaan di bumi ini. Kita adalah lilin-lilin kecil yang dipanggil Tuhan untuk menerangi dunia yang gelap dan penuh kebencian ini. Kristuslah sumber dari terang itu. Seperti sebuah lagu yang kita nyanyikan di tengah puing-puing gereja kita : "Yesus, terang-Mu pelita hatiku. Jangan gelap memerintah diriku. Yesus, terang-Mu pelita hatiku. Biar selalu kusambut cinta-Mu."

Sumber : Johannes Linandi 


Paus Yohanes Paulus II ketika berkunjung ke Taizé pada 5 Oktober 1986, mengatakan, "Seseorang yang singgah ke Taizé bagaikan mendekati sumber mata air. Di sini seorang peziarah berhenti, melepaskan dahaganya sebentar, sebelum melanjutkan perjalanannya".

Taize Di Indonesia
Ketahuilah kegiatan Taize di Indonesia, dan bergabunglah bersama untuk mengikuti kegiatan Taize ini.
Klik disini untuk melihat komunitas Taize di Indonesia......

Kumpulan Doa oleh Bruder Roger
Bersama Muder Teresa, Bruder Roger menuliskan doa-doanya dalam buku 'Doa, Mengetuk Hati Allah'. Doa-doa yang membuat kita mengerti bagaimana berdoa dan mendengar suara Tuhan...
Klik disini untuk membaca doa-doa tersebut......


Salam _()_ Rahayu 

Tidak ada komentar: