Senin, 14 Januari 2013

Pandangan Kaweruh Jendra Hayuningrat Tentang Kehidupan di Dunia

Rangkuman diskusi  bersama antar pelaku Kaweruh Jendro dari pelbagai Paguyuban yang seAzas  

 Oleh. Budi Siswanto

Salam Rahayu! Pandangan Kaweruh Jendra Hayuningrat tentang makna hidup manusia didunia ditampilkan secara rinci, realistis, logis dan mengena di dalam hati nurani; bahwa hidup ini diumpamakan hanya sekedar mampir ngombe (menumpang minum), hidup hanya dalam waktu sekejab, dibanding kelak hidup di alam keabadian   (jaman ke-langgeng-an) setelah raga ini mati. Tetapi tugas manusia sungguh berat, karena jasad adalah pinjaman Tuhan. Tuhan meminjamkan raga kepada roh, tetapi roh harus mempertanggungjawabkan barang pinjamannya itu. Pada awalnya Tuhan Yang Maha Suci meminjamkan jasad kepada roh dalam keadaan suci, apabila waktu kontrak peminjaman sudah habis, maka roh diminta tanggung-jawabnya, roh harus mengembalikan jasad pinjamannya dalam keadaan yang suci seperti semula. Roh dengan jasadnya diijinkan Tuhan turun ke bumi, tetapi dibebani tugas yakni menjaga barang pinjaman tersebut agar dalam kondisi baik dan suci setelah kembali kepada pemilik-Nya, yakni Gusti Ingkang Akaryo Jagad. Roh dan jasad menyatu dalam wujud yang dinamakan manusia. Tempat untuk mengekspresikan dan mengartikulasikan diri manusia adalah tempat pinjaman dari Tuhan pula yang dinamakan bumi serta segala macam isinya; atau mercapada. Karena bumi bersifat pinjaman Tuhan, maka bumi juga bersifat tidak kekal.

Betapa Maha Pemurahnya Tuhan itu, bersedia meminjamkan jasad, berikut tempat tinggal dan segala isinya menjadi fasilitas manusia boleh digunakan secara gratis. Tuhan hanya menuntut tanggungjawab manusia saja, agar supaya menjaga semua barang pinjaman Tuhan tersebut, serta manusia diperbolehkan memanfaatkan semua fasilitas yang Tuhan sediakan dengan cara tidak merusak barang pinjaman dan semua fasilitasnya.

Itulah tanggung-jawab manusia yang sesungguhnya hidup di dunia ini; yakni menjaga barang titipan atau pinjaman, serta boleh memanfaatkan semua fasilitas yang disediakan Tuhan untuk manusia dengan tanpa merusak, dan tentu saja menjaganya agar tetap utuh, tidak rusak, dan kembali seperti semula dalam keadaan suci. Itulah perjanjian gaib antara Tuhan dengan manusia makhlukNya.

            Untuk menjaga klausul perjanjian tetap dapat terlaksana, maka Tuhan membuat rumus atau aturan-main yang harus dilaksanakan oleh pihak peminjam yakni manusia. Rumus Tuhan ini yang disebut pula sebagai kodrat Tuhan; berbentuk hukum sebab-akibat. Pengingkaran atas isi atau klausul kontrak tersebut berupa akibat sebagai konsekuensi logisnya. Misalnya; keburukan akan berbuah keburukan, kebaikan akan berbuah kebaikan pula. Barang siapa menanam, maka mengetam. Perbuatan suka memberi kemudahkan akan berbuah sering dimudahkan (anom). Suka mempersulit akan berbuah sering dipersulit, semuanya ini lazim di sebut dalam pribahasa Jawa : ngunduh uwohe pakarti. Rahayu
Posting Komentar