Minggu, 13 Januari 2013

Filsafat Jawa


Memang benar jika di tinjau dari filsafat Jawa, yaitu mengagungkan bathin lan urip sakmadya dan juga lebih nampak merendahkan materi. Mengenai hal ini tampak jelas dalam berbagai hal, terutama pandangan hidup orang-orang Jawa  selalu bersifat non-materi, jika kita fahami setiap isi pengajaran yang di sampaikan melalui Dhawuh bahwa bimbingan kaweruh Jendro Hayuningrat sama persis dengan faham masyarakat jawa, yaitu lebih cenderung mengedepankan tata-krama   dan   kehalusan. Kepriayian dan kebudayaan adiluhung telah menjadi kebanggaan, mungkin merupakan sebuah pencapaian.
Maka dari itu, jika ada seorang Jawa atau orang lain ( yang bukan suku Jawa ) dan  bersikap   kasar terhadap sesama, maka masyarakat jawa akan  memberi sebutan  “ ora   njawani” yang artinya tidak bersikap Jawa atau bahkan “durung Jawa” (belum menjadi Jawa) karena       hanya yang halus dan berbudi luhurlah yang diakui sebagai “wis Jowo” ( sudah menjadi Jawa). Jadi dalam kenyataannya banyak orang Jawa yang pandai membungkuk dalam bersikap, itu justru telah menjadikan dirinya sombong dan merasa dirinya paling unggul dalam santun dan  berbudi luhur.

Adanya dikotomi tanah Jawa – tanah sabrang (seberang) dalam hidup orang Jawa juga berangkat dari rasa unggul (secara kultural) semacam itu.   Tapi   orang "seberang” bahkan orang bule sekalipun, asalkan ia halus tutur kata dan tindakanya oleh orang Jawa disebut sebagai "Jawa". Seolah-olah hanya orang Jawa yang punya kehalusan. Seorang teman saya bahkan tidak malu-malu menyebut bule atau China yang sarungan dan pakai baju koko atau baju jemblek, mereka sebut sebagai bule atau China yang njawani.

Cultural determinism dalam antropologi dulu dianggap produk Eropa dan merupakan gambaran keangkuhan bule Eropa. Orang lupa bahwa determinisme cultural ada juga di Jawa. Tetapi, apakah benar bahwa rasa unggul pada orang Jawa itu berawal dari ungkapan kegetiran masyarakat Jawa, akibat menderita kekalahan secara terus-menerus di bidang politik, ekonomi dan militer dalam menghadapi agresi Barat? Benarkah orang Jawa menggunakan kebudayaan sebagai selubung untuk menyembunyikan muka dari rasa malu, sebab telah menjadi pihak yang kalah melulu?

Dalam hidup sehari-hari terasa bahwa orang yang mengejar materi dianggap ngaya (ngoyo) uripe alias memaksakan diri dalam hidup, dan ini merupakan sesuatu yang bukan Jawa. Hidup cara Jawa adalah tenteram dan harmoni dalam konotasi bathin, karena di sana tersirat bahwa materi tak bisa membawa ketenteraman. Tak heran bila orang Jawa lebih memilih mangan ora mangan waton ngumpul (makan tidak makan yang penting kumpul).

Ada sebuah ungkapan Jawa yang lazim diutarakan oleh pelaku spiritual Jawa  “Nitih Mercy mbrebes mili, mikul dhawet uro-uro” (orang kaya naik Mercy namun sambil berurai air mata, tukang jual cendol walau memikul bisa bersenandung karena bahagia), ungkapan ini merupakan simbol pemujaan atas hidup sakmadya dan merupakan bentuk penolakan materi seperti uraian diatas tadi. Dalam dunia Islam, gambaran masyarakat tentang Sufi selalu merujuk pada kesederhanaan dan penolakan terhadap keduniawian. Max Weber bahkan menganggap agama-agama Timur termasuk Islam, Budha dan Hindu tidak memiliki "asketisme duniawi" beda halnya agama Protestan yang telah melahirkan kapitalisme modern itu. Karena asketisme agama-agama Timur bersifat mistis, "lari" dari duniawi dan mengejar hidup akhirat semata. Ironisnya seperti yang pernah ditulis Goenawan Mohamad, mereka yang "emoh" duniawi ini ternyata biaya hidupnya dari dana yang dihimpun oleh mereka (orang-orang yang menjahui duniawi) dengan dalih persembahan, sedekah atau sodakoh.

Semua Guru-guru lantaran yang menjalani hidup sebagai Pemencar kaweruh kasepuhan lazim disebut Pinisepuh. Dimata masyarakat, pinisepuh dikenal sebagai seorang pelaku Kejawen atau Sufi kalo di agama Islam. Penulis ingin menceritakan pertemuan penulis dengan seorang pinisepuh. Ada seorang pinisepuh yang tinggal di suatu daerah di Jawa-Timur. Beliau pendiri sekaligus pemimpin sebuah Padepokan atau pemondokan kejawen, akan tetapi hidup ke-duniawi-annya mentereng. Rumahnya mewah, pakaiannya necis, mobilnya bukan hanya Kijang Inova namun beliu juga punya Mercy seri 3, hal ini adalah gambaran Kejawen yang tidak lazim dan yang melawan "stigma" yang sah itu ( urip sakmadya).

         Penulis punya seorang kenalan dan sekarang menjadi teman akrab penulis, beliu juga menjadi pamencar kaweruh kasepuhan di salah satu kota di Jawa Timur. Pada suatu pagi, beliu tampak  marah pada para siswanya, karena pada pagi itu para siswa menghadap beliu hanya memakai kaus oblong ala kadarnya ( warna sudah kusam dan tidak di setrika ) dan berikat kepala ( udeng) butut. Di pintu gerbang padepokan para siswa disambut oleh sang Pinisepuh, dengan suara keras (lantang) mendamprat para siswa dari dalam sebuah Innova yang licin mulus, sebab saat itu beliu hendak mengantarkan penulis pulang menuju terminal bus. "Kamu kira   kalau sudah menggembel seperti itu bisa masuk surga? Hidupmu itu belum tentu, tahu!!?.....Kalau mau menjadi siswa Jendro yang hebat, hiduplah yang mentereng di dunia dan matinya sempurna (masuk surga). Jangan kamu balik duniamu, sudah pating slawir (compang-camping), status akhiratmu aja masih ngambang. Pikiran romo pinisepuh ini jelas subversive, menjungkir-balikkan pandangan Jawa yang sejati (urip sakmadya) tadi. Ia tidak mau "naik Mercy mbrebes  mili". Edan, po?, ia pun menolak mikul dhawet, meskipun sinambi uro-uro. 
      Memang muskil dalam pandangan Jawa : nitih Mercy tur uro-uro. Sikapnya yang memilih hidup mulia di dunia dan mati berharap bisa masuk surga, bukan bentuk penerapan dari "hedonisme" para kawula muda yang bicara tentang "mumpung muda foya-foya, tua kaya raya dan mati masuk surga". Pilihan sikap hidup romo Pinisepuh ini. Serius, beliu bertolak dari dasar-dasar ajaran mulia, Kejawen atau Sufi harus tetap hidup mewah, dengan kata lain, bukan sekedar tidak "najis" yang penting ke-kejawen-annya tidak "luntur". Ke-mentereng-annya dengan harta duniawi dan Innova-nya itu, tentunya sah-sah saja, sepanjang tak membuat dia lupa pada yang paling esensial yaitu Tuhan.
       
       Duit, rumah mewah, Kijang Inova dan Mercy seri 3, semuanya dipahami hanya sebagai alat, bukankah pelaku Jendro dihalalkan dalam menggunakan alat-alat semacam itu? Pelaku Kejawen sekelas romo Pinisepuh yang penulis ceritakan ini kalibernya penyumbang, bukan hidup dari sumbangan. Beliu mereguk kemewahan dunia tapi tak terpenjara oleh harta bendanya. Beliu hidup dengan asketisme duniawi, bukan asketisme mistis yang lari dari duniawi itu, beliu tidak mempertentangkan maupun mempermasalahkan hidup sakmadya dan materi. Sebaliknya, keduanya didamaikan, dibuat "manunggal" sebagai sarana tumuju sang Hyang Atunggal dan penyerahan diri yang lebih komplet serta lebih total. Bagi beliu, perjalanan menuju keheningan memerlukan juga duit agar lebih bening.
         Pada umumnya,  orang baru mendekatkan diri pada Tuhan-nya ketika mengalami kesulitan. Akan tetapi jika dalam keadaan senang Tuhan sering dia tinggalkan. Romo Pinisepuh kita yang penulis ceritakan ini beda. Maka, barangkali di sini jawabannya mengapa pandangan hidup Jawa mengutamakan urip sakmadya dan menolak materi. Kenyataan yang kita temukan : orang Jawa lebih memilih mikul dhawet sinambi uro-uro tinimbang nitih Mercy kanthi mbrebes mili, karena naik Mercy memang lebih besar godaannya. Jadi hanya Pinisepuh besar dengan kantong  “iman yang tebal” yang bisa naik Mercy sinambi uro-uro. Marilah kita yang adalah pelestari budaya Jawa, khususnya yang bergerak dalam bidang pamencar kaweruh kasepuhan lebih arif dan bijaksana dalam memberikan bimbingan rohani, baik dalam manembah, sedekah, menjalin hubungan dengan sesama maupun dalam pencarian harta atau pangupah-raga. Nuwun! (Budi Siswanto)

Posting Komentar