Minggu, 30 Juni 2013

Jalan Menuju Ngayugyokarto kang kaping Pindo ( bag.1 )



*
Kaweruh Jendra Hayuningrat sulit didefinisikan, secara sederhana Kaweruh Jendra Hayuningrat dapat diartikan : mengenal Sang Hyang Agung. Namun Kaweruh Jendra Hayuningrat tidak hanya sekedar tahu (to know), melainkan juga harus memahami (to understand), menghayati (to perceive), meyakini (to believe firmly in) dan mengamalkan (to apply).

Kaweruh Jendra Hayuningrat  itu adalah ilmu sekaligus ngelmu. “Ngelmu” (bahasa Jawa) artinya pengetahuan yang memiliki unsur penghayatan, keyakinan dan pengamalan, berbeda dengan “ilmu” yang diartikan sekedar cukup dibaca dan diketahui. Ungkapan Jawa “Ngelmu iku kelakon kanthi laku” (“ngelmu” itu dapat terwujud apabila diamalkan) itu berarti bahwa “ngelmu” tidak cukup hanya diketahui, melainkan juga harus dihayati dengan baik, diyakini dengan mantap dan diamalkan dengan tekun.

Kaweruh Jendra Hayuningrat atau Kaweruh “mengenal Sang Hyang Agung” wajib hukumnya bagi setiap insan / orang. Setiap insan harus mengenal Sang Penciptanya. Sumber dan muara dari segala yang ada. Beragama tanpa mengenal Robbynya ibarat berlayar tak tahu hendak kemana. Ibarat berkelana tak tahu sekarang dimana. Ibarat merantau di alam dunia tak tahu mencari siapa. Maka mengenal Sang Hyang Agung merupakan rukun iman pertama, yang memiliki kedudukan yang paling tinggi bagi setiap insan, khususnya bagi yang memeluk agama sebagai jalan spiritualnya.

Bagi saudara-saudara muslim, sebelum Anda menegakan sholat, puasa, zakat dan haji terlebih dulu bersyahadat. Syahadat yang artinya kesaksian, adalah titik awal Kaweruh Jendra Hayuningrat. Namun tidak semua orang yang bersaksi (syahadat) mengerti yang dipersaksikannya (di-syahadati).

Pada suatu hari seorang santri sedang melangsungkan hajatan pernikahan. Pada saat akan akad nikah, Sang kyai berkata : “aku ingin cucuku yang berusia 7 tahun ini menjadi saksi dalam akad nikah ini!” tentu saja segenap orang tua yang hadir di majelis akad nikah kaget dan keberatan dengan usulan tersebut, namun sang Kyai tetap ngotot. “Mengapa tidak boleh? Cucuku ini sudah menjalankan sholat dan bisa baca Quran.” tambahnya. “Tapi kyai, meskipun begitu, tetap saja dia masih terlalu kecil untuk dijadikan saksi, ia belum mengerti apa yang sedang sejatinya ia persaksikan dalam akad nikah ini, bagaimana mungkin dijadikan saksi!” sanggah para orang tua. Lalu sang kyai menjawab : ”sebenarnya begitu juga keadaan kalian, setiap hari mengucap Syahadat (kesaksian) namun sejatinya tidak tahu apa yang sedang dipersaksikan (disyahadati)”.

Begitulah sang kyai yang tak lain adalah seorang pinisepuh Kaweruh Jendra, pagi itu sebenarnya hanya hendak memberi sebuah pelajaran (Kaweruh)  kepada para jama’ahnya. Kaweruh Jendra Hayuningrat  atau “mengenal Sang Hyang Agung” adalah fondasi bagi setiap umat beragama. Adalah jalan menuju Sang Hyang Agung atau Sang Hyang Wenang. Adalah tujuan dalam hidup manusia. Maka Kaweruh Jendra Hayuningrat  (mengenal Sang Hyang Agung) adalah titik awal dan titik akhir bagi insan beragama ( yang Alfa dan yang Omegah). Oleh sebab itu tidaklah tepat bila ada ungkapan : “jangan mengajarkan ma’rifat sebelum murid belum benar-benar menjalani syariat, hakikat, toriqot”. Ma’rifat adalah titik awal dan titik akhir. Sebelum seorang hamba menjalankan syariat, tarikat dan hakikat ia harus tahu dulu siapakah Robbnya (ber-Kaweruh Jendra Hayuningrat  / mengenal Tuhannya). Begitu-pula saat menjalankan syariat, tarikat dan mendalami hakikat semua tetap difokuskan ke jalan Kaweruh Jendra Hayuningrat .
Posting Komentar