Rahayu...!
Mantra tidaklah sama maknanya dengan
do’a. Bila do’a merupakan permohonan kepada Tuhan YME, sedangkan mantra itu ibarat menarik picu senapan yang bernama daya hidup (baca : Daya guru Sejati di blog Meditasi Sastra Jendra Hayuningrat). Daya hidup manusia adalah pemberian
Tuhan Yang Mahakuasa.
Pemberian sesaji, laku sesirih (mencegah) dan laku semedi memiliki makna tatacara memberdayakan daya hidup agar dapat menjalankan kehidupan yang benar, baik dan tepat. Yakni menjalankan hidup dengan mengikuti kaidah memayu hayuning bawana. Daya kehidupan manusia menjadi faktor adanya aura magis (gelombang elektromagnetik) yang melingkupi badan manusia. Aura magis memiliki sifatnya masing-masing karena perbedaan esensi dari unsur-unsur yang membangun menjadi jasad manusia. Unsur-unsur tersebut berasal dari bumi, langit, cahya dan teja yang keadaannya selalu dinamis sepanjang masa. Untuk menjabarkan hubungan antara sifat-sifat dan esensi dari unsur-unsur jasad tersebut lahirlah ilmu Jawa yang bertujuan untuk menandai perbedaan aura magis berdasarkan weton dan wuku.
Pemberian sesaji, laku sesirih (mencegah) dan laku semedi memiliki makna tatacara memberdayakan daya hidup agar dapat menjalankan kehidupan yang benar, baik dan tepat. Yakni menjalankan hidup dengan mengikuti kaidah memayu hayuning bawana. Daya kehidupan manusia menjadi faktor adanya aura magis (gelombang elektromagnetik) yang melingkupi badan manusia. Aura magis memiliki sifatnya masing-masing karena perbedaan esensi dari unsur-unsur yang membangun menjadi jasad manusia. Unsur-unsur tersebut berasal dari bumi, langit, cahya dan teja yang keadaannya selalu dinamis sepanjang masa. Untuk menjabarkan hubungan antara sifat-sifat dan esensi dari unsur-unsur jasad tersebut lahirlah ilmu Jawa yang bertujuan untuk menandai perbedaan aura magis berdasarkan weton dan wuku.
Aura magis dalam diri manusia dengan
aura alam semesta terdapat kaitan erat. Yakni gelombang energi yang saling
mempengaruhi secara kosmis-magis. Dinamika energi yang saling mempengaruhi
mempunyai dua kemungkinan yakni pertama, bersifat saling berkaitan secara
kohesif dan menyatu (sinergi) dalam wadah keharmonisan, kedua; energi yang
saling tolak-menolak (adesif). Laku sesirih (meredam segala nafsu) dan semedi (olah batin) merupakan sebuah upaya harmonisasi dengan cara mensinergikan aura
magis mikrokosmos dalam kehidupan manusia (inner
world) dengan aurora alam semesta makrokosmos. Agar tercipta suatu hubungan
transenden yang harmonis dalam dimensi vertikal (pancer) antara manusia dengan Tuhan dan hubungan horisontal yakni
manusia sebagai jagad kecil / microkosmos dengan jagad besar alam semesta / macrokosmos. Rahayu....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar