Kemenakan Ki Kasijo itu bernama
Tarikun Karyoredjo, berasal dari Tuban. Pernikahan Tarikun Karyoredjo dengan
Raden Ayu Demes menurunkan dua orang anak laki – laki : Raden Asim Nitiredjo
dan Raden Yahmin Wihardjo. Keduanya sejak tahun 1946 hingga tahun 1997 menjadi
Juru Kunci Pesarean Gunung Kawi. Mulai tahun 1997 hingga sekarang Juru Kunci
Pesarean Gunung Kawi Adalah H.R. Soepodojono, R.Supratikto, dan H.R. Tjandra
Jana. Akhirnya Raden Asim Nitirejo menurunkan tiga orang anak. Masing – masing
bernama : 1. Raden Nganten Tarsini 2. Raden Soepodoyono 3. Raden Soelardi
Soeryowidagdo Sedangkan Raden Yahmin Wihardjo menurunkan seorang anak laki –
laki bernama Raden Soepratikto. Jika ditelusur hingga keakar – akar
silsilahnya, jelaslah bahwa Juru Kunci Pesarean Gunung Kawi masih mempunyai
ikatan darah yang cukup dekat dengan Raden Mas Iman Soedjono yang dimakamkan di
Gunung itu. Tidak menherankan pula jika para kerabat Kraton Yogyakarta sering
memegang peranan penting dalam upacara – upacara tradisional di Gunung Kawi.
Misalnya pada saat upacara Tahlil Akbar pada bulan suro. Meskipun demikian
kerjasama dengan para kerabat lainnya tetap terjalin dengan baik, dan hubungan
kekeluargaan tetap terjaga dengan guyub. Kanjeng Kyai Zakaria II atau Mbah
Djoego dan Raden Mas Iman Soedjono, yang sehari – harinya dikenal dengan
sebutan mbah Kromoredjo, sebenarnya adalah bhayangkara terdekat Pangeran
Diponegoro atau Pangeran Ontowiryo atau sebutannya yang lain Sultan Heru Tjokro
Sayidin Panetep Panotogomo Kalifatullah. Beliau berperang melawan kompeni
Belanda pada tanggal 20 Juli 1825 sampai pada tanggal 28 Maret 1830. Pada saat
Pangeran Diponegoro terjepit dalam perundingan dengan Kompeni Belanda dibawah
pimpinan Jenderal De Kock di Magelang pada tanggal 28 Maret 1830, beliau
menyadari bahwa beliau akan ditangkap. Sebagai seorang pimpinan perjuangan yang
bertanggung jawab, maka sebagai upaya final, beliau mengajukan tuntutan akhir,
yaitu beliau bersama keluarga terdekat bersedia ditangkap, asalkan bhayangkara
dan seluruh lasykar bersama keluarganya dibebaskan, dan diberi kesempatan
pulang kedaerah asalnya masing masing. Bila tuntutan itu tidak dipenuhi, dengan
keterbatasan personil dan senjata, Pangeran Diponegoro bertekad akan berperang
habis – habisan. Menyadari bahwa kharisma Pangeran Diponegoro didaerah
pedalaman Kraton Jogya dan Solo sangat besar, dengan berbagai pertimbangan,
akhirnya Kompeni Belanda memenuhi tuntutan tersebut.
 |
Masjid Agung di Lokasi Gunung Kawi |
|
Setelah
kalah dalam perundingan yang licik dan tidak terhormat itu, selanjutnya oleh
pihak Belanda Pangeran Diponegoro ditangkap di Magelang, kemudian dibawa ke
Batavia. Selanjutnya beliau diasingkan ke Menado dan terakhir dipindahkan ke
Makasar. Akhirnya beliau wafat didalam Benteng Rotterdam di Ujung Pandang (
Kota Makasar waktu itu ) pada tanggal 8 januari 1955 ( lihat buku mengenai
Perang Diponegoro karangan Mr. Moh. Yamin, juga pada buku Pahlawan Diponegoro
Berjuang karangan Sagimun). Setelah peristiwa penangkapan di Magelang terseut,
kemudian para pengikutnya pecah menjadi tiga golongan, yaitu : Golongan yang
lemah iman perjuangannya. Mereka ini adalah kelompok yang menyerahkan dan mau
bekerjasama dengan Belanda Golongan extrim militant Yang termasuk dalam
golongan ini adalah mereka yang tetap melanjutkan perjuangan bersenjata secara
gerilya dan sporadis. Mereka banyak bertahan di daerah – daerah pegunungan
selatan, mulai dari daerah Yogyakarta sampai Banyuwangi. Hal ini dapat
dibuktikan bahwa sampai sekarang, di kota – kota yang menajdi jalur perjuangan
bersenjata sisa – sisa lasykar Diponegoro tersebut, tetapi terdapat
perkampungan yang namanya Mentaraman. Artinya kampung tempat tinggal khusus
orang – orang yang berasal dari daerah Kraton Mentaram atau Yogyakarta.
Eskapisme. Artinya golongan yang berpandangan luas jauh kedepan, yaitu mereka
yang masih dilandasi oleh sifat – sifat patriotisme yang tinggi tetapi pola
berpikirnya cukup bijak, berdasar pada logika dan penuh perhitungan yang
cermat. Sisa – sisa lasykar Diponegoro yang terhimpun dalam golongan ini
menyadari, bahwa saat itu kekuatan Kompeni Belanda dengan kelengkapan
persenjataannya lebih modern dari persenjataan pasukan – pasukan lasykar
tersebut. Ditunjang pula oleh metode pengelolaan administratif dan disiplin
yang ketat oleh pimpinan – pimpinan yang berpendidikan tinggi. Maka diperhitungkan,
bahwa agaknya kaum bumi putera masih belum dapat memenangkan perlawanan secara
benturan kekuatan fisik dengan Kompeni Belanda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar