Sabtu, 27 April 2013

Menyingkap rahasia pesugihan Gunung Kawi bag 3


      
Kemenakan Ki Kasijo itu bernama Tarikun Karyoredjo, berasal dari Tuban. Pernikahan Tarikun Karyoredjo dengan Raden Ayu Demes menurunkan dua orang anak laki – laki : Raden Asim Nitiredjo dan Raden Yahmin Wihardjo. Keduanya sejak tahun 1946 hingga tahun 1997 menjadi Juru Kunci Pesarean Gunung Kawi. Mulai tahun 1997 hingga sekarang Juru Kunci Pesarean Gunung Kawi Adalah H.R. Soepodojono, R.Supratikto, dan H.R. Tjandra Jana. Akhirnya Raden Asim Nitirejo menurunkan tiga orang anak. Masing – masing bernama : 1. Raden Nganten Tarsini 2. Raden Soepodoyono 3. Raden Soelardi Soeryowidagdo Sedangkan Raden Yahmin Wihardjo menurunkan seorang anak laki – laki bernama Raden Soepratikto. Jika ditelusur hingga keakar – akar silsilahnya, jelaslah bahwa Juru Kunci Pesarean Gunung Kawi masih mempunyai ikatan darah yang cukup dekat dengan Raden Mas Iman Soedjono yang dimakamkan di Gunung itu. Tidak menherankan pula jika para kerabat Kraton Yogyakarta sering memegang peranan penting dalam upacara – upacara tradisional di Gunung Kawi. Misalnya pada saat upacara Tahlil Akbar pada bulan suro. Meskipun demikian kerjasama dengan para kerabat lainnya tetap terjalin dengan baik, dan hubungan kekeluargaan tetap terjaga dengan guyub. Kanjeng Kyai Zakaria II atau Mbah Djoego dan Raden Mas Iman Soedjono, yang sehari – harinya dikenal dengan sebutan mbah Kromoredjo, sebenarnya adalah bhayangkara terdekat Pangeran Diponegoro atau Pangeran Ontowiryo atau sebutannya yang lain Sultan Heru Tjokro Sayidin Panetep Panotogomo Kalifatullah. Beliau berperang melawan kompeni Belanda pada tanggal 20 Juli 1825 sampai pada tanggal 28 Maret 1830. Pada saat Pangeran Diponegoro terjepit dalam perundingan dengan Kompeni Belanda dibawah pimpinan Jenderal De Kock di Magelang pada tanggal 28 Maret 1830, beliau menyadari bahwa beliau akan ditangkap. Sebagai seorang pimpinan perjuangan yang bertanggung jawab, maka sebagai upaya final, beliau mengajukan tuntutan akhir, yaitu beliau bersama keluarga terdekat bersedia ditangkap, asalkan bhayangkara dan seluruh lasykar bersama keluarganya dibebaskan, dan diberi kesempatan pulang kedaerah asalnya masing masing. Bila tuntutan itu tidak dipenuhi, dengan keterbatasan personil dan senjata, Pangeran Diponegoro bertekad akan berperang habis – habisan. Menyadari bahwa kharisma Pangeran Diponegoro didaerah pedalaman Kraton Jogya dan Solo sangat besar, dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Kompeni Belanda memenuhi tuntutan tersebut.

 
Masjid Agung di Lokasi Gunung Kawi
            Setelah kalah dalam perundingan yang licik dan tidak terhormat itu, selanjutnya oleh pihak Belanda Pangeran Diponegoro ditangkap di Magelang, kemudian dibawa ke Batavia. Selanjutnya beliau diasingkan ke Menado dan terakhir dipindahkan ke Makasar. Akhirnya beliau wafat didalam Benteng Rotterdam di Ujung Pandang ( Kota Makasar waktu itu ) pada tanggal 8 januari 1955 ( lihat buku mengenai Perang Diponegoro karangan Mr. Moh. Yamin, juga pada buku Pahlawan Diponegoro Berjuang karangan Sagimun). Setelah peristiwa penangkapan di Magelang terseut, kemudian para pengikutnya pecah menjadi tiga golongan, yaitu : Golongan yang lemah iman perjuangannya. Mereka ini adalah kelompok yang menyerahkan dan mau bekerjasama dengan Belanda Golongan extrim militant Yang termasuk dalam golongan ini adalah mereka yang tetap melanjutkan perjuangan bersenjata secara gerilya dan sporadis. Mereka banyak bertahan di daerah – daerah pegunungan selatan, mulai dari daerah Yogyakarta sampai Banyuwangi. Hal ini dapat dibuktikan bahwa sampai sekarang, di kota – kota yang menajdi jalur perjuangan bersenjata sisa – sisa lasykar Diponegoro tersebut, tetapi terdapat perkampungan yang namanya Mentaraman. Artinya kampung tempat tinggal khusus orang – orang yang berasal dari daerah Kraton Mentaram atau Yogyakarta. Eskapisme. Artinya golongan yang berpandangan luas jauh kedepan, yaitu mereka yang masih dilandasi oleh sifat – sifat patriotisme yang tinggi tetapi pola berpikirnya cukup bijak, berdasar pada logika dan penuh perhitungan yang cermat. Sisa – sisa lasykar Diponegoro yang terhimpun dalam golongan ini menyadari, bahwa saat itu kekuatan Kompeni Belanda dengan kelengkapan persenjataannya lebih modern dari persenjataan pasukan – pasukan lasykar tersebut. Ditunjang pula oleh metode pengelolaan administratif dan disiplin yang ketat oleh pimpinan – pimpinan yang berpendidikan tinggi. Maka diperhitungkan, bahwa agaknya kaum bumi putera masih belum dapat memenangkan perlawanan secara benturan kekuatan fisik dengan Kompeni Belanda.
Posting Komentar