Sabtu, 27 April 2013

Menyingkap rahasia pesugihan Gunung Kawi bag 5

Pada hari Selasa Wage malam Rabu Kliwon tanggal 12 suro atau Muharram tahun 1805 Jimawal bertepatan dengan tanggal 8 Februari 1876, Raden Mas Iman Soedjono meninggal dunia tepat pada pukul 24.00 tengah malam. Hal ini pun diabadikan dalam prasasti didepan pendopo makam dalam untaian condro sengkolo yang berbunyi : SWORO SIRNO MANGESTI MANUGGAL. Condro sengkolo tersebut mempunyai arti : Sworo bernilai 5, Sino bernilai 0, Mangesti bernilai 8 dan Manunggal bernilai 1. Jadi susunan angka dalam condro sengkolo tersebut dibalik, akan didapatkan angka 1 8 0 5, yaitu tahun meninggalnya Raden Mas Iman Soedjono. Kemudian jenazah beliau dikebumikan dalam satu liang lahat dengan almarhum Mbah Mbah Djoego. Hal ini dilakukan sesuai dengan wasiat Mbah Djoego yang pernah menyatakan bahwa bilamana kelak keduanya telah wafat, meminta agar supaya dikuburkan bersama dalam satu liang lahat, mengapa demikian ? Hal tersebut rupanya mengandung maksud sebagai dua insan seperjuangan yang senasib sependeritaan, seazas dan satu tujuan dalam hidup, sehingga mereka selalu berkeinginan untuk tetap berdampingan sampai ke alam baqa. Disamping itu terdapat beberapa alasan yang mendasari keinginan itu, ialah : Kedua beliau itu adalah sejawat seperjuangan mulai dari titik awal, dalam suasana duka maupun suka, semasa bersama – sama bergabung dalam lasykar Diponegoro sampai pada titik terakhir. Mbah Djoego tidak beristri apalagi berputra. Raden Mas Iman Soedjono sudah dinyatakan sebagai Putra Kinasih serta penerus kedudukan Mbah Djoego ( sebagai pengganti Mbah Djoego ).

Susana sekitar makam Gunung Kawi
            Namun di sisi lain, motif para pengunjung yang datang ke pesarean ini pun sangat beragam pula. Ada yang hanya sekedar berwisata, mendoakan leluhur, melakukan penelitian ilmiah, dan yang paling umum adalah kunjungan ziarah untuk memanjatkan doa agar keinginan lekas terkabul. Wisata Ziarah Pesugihan Gunung Kawi "Gunung tidak perlu tinggi asal ada dewanya." Pepatah populer di kalangan warga Tionghoa ini bisa menjelaskan kenapa Gunung Kawi di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, sangat populer. Kawi bukan gunung tinggi, hanya sekitar 2.000 meter, juga tidak indah. Tapi gunung ini menjadi objek wisata utama masyarakat Tionghoa. Tiap hari ratusan orang Tionghoa, termasuk orang pribumi naik ke Gunung Kawi. Masa liburan plus cuti bersama Lebaran ini sangat ramai.
            Karena terkait dengan kepercayaan Jawa, Kejawen, maka kunjungan biasanya dikaitkan dengan hari-hari pasaran Jawa: Jumat Legi, Senin Pahing, 1 Suro, dan Tahun Baru. "Pokoknya selalu ramai, Mas," ujar salah satu seorang pemandu wisata. Pemberitahuan itu memang tidak salah, saat berjalan kaki sejauh satu kilometer menuju pusat wisata utama (makam dan kelenteng), terlihat lautan manusia. Macam pasar malam. Pengemis ada sekitar seratus orang (anak-anak sampai orang tua). Toko-toko souvenir berdempetan hingga pesarehan. Penginapan, kata Syaikoni, lebih dari 10 buah, dengan tarif Rp 30.000 hingga Rp 200.000. Restoran Tionghoa yang menawarkan sate babi dan makanan tidak halal (buat muslim) cukup banyak. Tukang ramal nasib. Penjual kembang untuk nyekar. Penjual alat-alat sembahyang khas Tionghoa. Belum lagi warung nasi dan sebagainya. "Gunung kok ramai begini kayak di kota?" tanya salah seorang pengunjung yang baru pertama kesana pada Syaikoni. "Gunung Kawi yang begini ini. Fasilitasnya sudah direnovasi oleh yayasan, ya, pakai uang sumbangan pengunjung. 


Mereka yang dapat rezeki, usahanya lancar, sumbang macam-macam. Akhirnya, dibuat bagus seperti sekarang," tutur Syaikoni, 33 tahun, asli Wonosari. Dia sudah beberapa tahun menjadi pemandu wisata sekaligus pembawa barang-barang pengunjung. Syaikoni tahu banyak seluk-beluk Gunung Kawi. Usai kunjungan, kita bebas memberikan tips kepadanya. Tidak pakai tarif-tarifan buat guide ala Gunung Kawi. Apa yang dicari orang-orang di Gunung Kawi? Kekayaan? Rezeki? Usaha lancar? Macam-macam niat orang. "Ya, kita olang mo beldoa semoga dikasih rejeki. Pokoke, usaha kita olang lancal lah," ujar seorang ibu asal Surabaya dengan logat khasnya tionghoa. Jawaban sejenis disampaikan pengunjung lain. Karena itu, warga Jawa Timur kerap mencitrakan Gunung Kawi sebagai tempat pesugihan. Tapi, bagi kalangan kejawen, penggiat budaya Jawa, Gunung Kawi lebih dilihat sebagai tempat pelestarian budaya Jawa.
Posting Komentar